Sebenernya ini cerpen buat tugas bahasa indonesia. Awalnya ga berniat bikin cerita ini. Tapi setelah temen gue, Nene bilang sebaiknya gue bikin cerpen tentang kehidupan di BTA -_- ya jadi gue terpikir untuk merekayasa kenyataan yang ada. Judul cerpennya "The Monces"
Enjoy!
Ambigu. Lima pemuda itu berjalan menyusuri jalanan ibukota dengan membawa alat musik masing-masing dibawah terik matahari. Kulit mereka mulai menghitam terbakar cahaya matahari. Tak terkecuali Aldy, sang drummer, yang sangat memperhatikan kesehatan kulitnya. Dia mempunyai kulit yang paling putih diantara empat temannya yang lain. Tahu mengapa? Aldy mempunyai dokter kulit pribadi dan setiap ia beraktivitas di luar ruangan ia selalu mengolesi kulitnya terutama pada wajah dengan krim tirai sinar matahari sehingga kesehatan kulitnya pun tetap terjaga. Namun kini sepertinya tidak. Keringat mulai mengucuri kening dan tubuhnya, Aldy mulai meringis dan menjerit sambil mengelap kacamatanya dengan tisu basah.
“Duuuuh gue lupa pakai sunblock tadi nih, gimana dong coy? Makin panas ini…”
Keempat lainnya menoleh kearahnya kemudian berbalik lagi, tak peduli apa yang terjadi pada satu temannya itu.
Mereka memberi nama band mereka “Ambigu” yang artinya pun juga tidak mereka ketahui. Mereka tidak sanggup memikirkan makna dari sebuah nama maka mereka menamainya Ambigu. Aneh memang, tapi ya sudahlah. Grup ini beranggotakan lima pemuda tampan dan bertubuh atletis (maaf, berbohong sedikit) yang beraliran musik entah apa namanya. Mereka adalah Qosse sebagai vokalis, Idho seorang gitaris, Firzi juga gitaris, Hary pada bass, dan si kulit putih merona yang seorang drummer atau sebut saja Aldy. Satu hal yang membuat mereka makin terlihat cute, mereka semua memasangkan kawat pada gigi mereka. (-_-?)
Biasanya mereka manggung saat malam hari di kafe-kafe di wilayah Jakarta Selatan. Tapi hari ini entah kenapa sang gitaris, Idho mengajak untuk bernyanyi di tempat umum, di ruang terbuka hijau, yaitu sebuah taman. Sebut saja Taman Ria Senayan. Tentu Idho punya alasan mengapa ia mengusulkan untuk nge-band disana hari ini, tapi hanya ia dan Tuhan yang tahu apa alasannya. Idho tidak ingin mengatakannya.
***
Taman itu sudah dipenuhi orang-orang yang ingin bersantai di Sabtu sore, ada yang sedang berolahraga, ada yang bercengkerama, ada yang bermain lompat tali, ada yang sedang membaca buku fiksi yang sangat tebal sekali setebal kacamata yang dipakai Aldy, ada juga yang menyendiri tanpa melakukan apa-apa yang mungkin sedang merasa galau dalam menentukan jurusan apa yang akan ia pilih nanti setelah ia lulus SMA.
Jarum pendek di arloji milik Aldy mengarah ke angka empat. Mereka berlima siap di posisi masing-masing. Aldy mencengkeram kuat stick drum miliknya, siap menunjukkan aksinya memukul drum yang spektakuler yang akan membuat para wanita yang melintas terkagum-kagum. Namun sang vokalis belum siap di posisinya. Ia masih sibuk menghafal lirik.
“I know that we are young, and I know that she may loves me… But I just can’t be with you like this anymore, Alejandro…. Aduuuh susah banget sih! Dho kenapa lo milih lagu ginian sih? Apa-apaan lo dho nyuruh gue teriak-teriak Alejandro… Alejandro?”
“Bawel! Tinggal nyanyi aja ribet lo kak. Kalau ga bisa ya sudah saya aja yang nyanyi kalau begitu. Mau, tukar posisi?”
“Mana bisa lu nyanyi? Kasihan nanti pengunjung disini.”
“Nah itu ngerti. Ya sudah, ok siap yak”
Jreng jreng duk tak dung treng gejebak gejebuk …..
Sudah hampir empat jam mereka beraksi di taman itu. Pengunjung makin ramai, hari makin gelap, tapi belum larut. Namun para pengunjung merasa terhibur dengan pertunjukan “Ambigu”. Senyum mereka berlima membahana. Orang-orang yang lewat pu tak ragu-ragu mengeluarkan kamera dan merekam moment itu.
Tanpa mereka sadari, aksi mereka daritadi telah menyita perhatian seorang fotografer muda, seorang perempuan pelajar SMA. Gadis tersebut tidak sendiri, tetapi ditemani oleh kakaknya yang juga seorang fotografer profesional. Ayah mereka adalah seorang produser rekaman. Selesai mereka bermain dan bersiap untuk pulang, kedua fotografer tersebut menghampiri mereka berlima.
“Hai, permainan kalian bagus sekali tadi. Kita menontonnya loh dari awal sampai selesai.” Gadis tersebut menghampiri sang gitaris, Idho dan mengungkapkan kekagumannya terhadap band itu.
“Oh hai! Oh… Eh… Ya… Terimakasih.” Jawab Idho sambil tersenyum malu.
“Kenalkan, nama saya Septha. Dan ini kakak saya, Ridho.”
Mereka semua berjabat tangan sambil tersenyum.
Lalu Ridho mengeluarkan kartu nama dari dompet kulitnya yang mahal dan memberikannya kepada Idho.
Idho menerimanya dengan bingung. “Apa ini?”
“Emm, kalau ada waktu datang ya ke alamat yang tertera disitu. Kapan saja kalian datang pasti kita sambut kok. Ok? Kami duluan ya..”
Mereka berlima menatap kartu nama itu sekilas kemudian menatap kepergian dua orang kakak-beradik tadi. Dan tiba-tiba hilang bersama angin di kegelapan malam. Mereka berlima masih terpaku di tempat itu sampai di suatu siang hari Selasa.
***
Qosse, Idho, Firzi, Hary, dan Aldy masih terdiam. Mereka sampai di sebuah gedung bercat warna krem bertingkat tiga dengan tulisan besar berwarna merah di dindingnya. Saat itu pukul 11.00 WIB, sudah cukup siang memang. Kali ini Aldy tidak lupa memakai krim tirai sinar mataharinya. Idho sedang memastikan kebenaran alamat yang mereka datangi. Yah benar.
BTA Management
Jalan Tebet Selatan No. 50
Jakarta Barat
Setelah memastikan bahwa alamat yang mereka tuju adalah benar, Idho seraya menoleh ke teman-temannya dan mengangguk.
Dengan langkah pasti mereka berlima memasuki gedung tersebut.
Firzi melihat seorang gadis berkacamata berbaju kuning melintas di dalam gedung yang waktu itu memberikan kartu nama kepada mereka.
“Hai, emm… Septha!”
Septha menoleh ke arah datangnya suara yang memanggilnya. Tetapi gadis itu bingung karena ia tidak mengenal satupun dari lima orang yang sedang tersenyum penuh harap ke arahnya. Setelah 10 detik mereka berenam terdiam, barulah ia ingat.
“Ah kalian! Datang juga rupanya. Ayo sini saya antar ke ruang kerja ayah saya.”
Mereka berlima berjalan mengikuti Septha. Sesampainya di ruangan, Septha mengenalkan mereka semua kepada ayahnya.
“Hmm menurut cerita anak-anak saya, kalian mengesankan. Kalian juga punya kharisma. Saya telah melihat kalian bernyanyi dan bermain alat music dari rekaman yang dibawa anak saya. Kalian tergabung dalam sebuah band, yang apa itu namanya?”
“AMBIGU!” Jawab mereka serentak.
“Apa itu ‘AMBIGU!’ hemm ?”
“Ehm kita sendiri juga tidak tahu Pak apa artinya. Kita tidak sanggup memikirkan apa arti dari nama band kita, makanya kita beri nama Ambigu saja. Begitu Pak.”
“Bahahahahaha…… Ok, ok. Mulai sekarang nama band kalian ‘The Monces’ ya hahahaha”
“Hah? Apa artinya The Mon…ces?” Tanya mereka kompak.
“Kalian kompak sekali ya. The Monces artinya Pramono Cs.”
“Loh? Kenapa harus Pramono, Pak? Nama saya Aldy, Pak. Ini Firzi, sebelahnya namanya Hary, dia Idho, yang diujung Qosse. Nama kita tidak ada Pramono, Pak. Kenapa jadinya malah Pramono?”
“Pramono itu nama saya!!”
***
Sejak itu band Ambigu yang selalu dinanti para pengunjung taman ria tidak muncul lagi. Masyarakat sempat kecewa. Namun kekecewaan mereka terbalas dengan adanya grup band baru bernama ‘The Monces’ yang berdiri dibawah perusahaan rekaman berlabel BTA. Lagu-lagu yang mereka bawakan pun telah menghibur banyak lapisan masyarakat Indonesia. Dan seketika nama The Monces pun melejit dan dikenal di berbagai kalangan masyarakat, tak terkecuali kalangan anggota DPR. Album pertama mereka yang berjudul ‘The Fame Monster’ telah terjual 1 Milyar kopi di Indonesia. Kini mereka sukses.
ada part 2 nyaaaaa hahahaha
salam #ambigu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar